Leave a comment

Sepenggal BAB Novel: Memoar Sepertiga Malam

Matanya kembali terbuka di malam yang bersahabat dan sunyi. Yang terdengar hanyalah suara kokok ayam pertanda sepertiga malam. Ia biasa bangun antara pukul 02.30 sampai pukul 04.00 untuk mensyukuri nikmat Tuhannya, melaksanakan beberapa rakaat Shalat Tahajjud. Kemudian dilanjutkan dengan Tilawah Quran barang dua atau tiga halaman Mushaf Utsmani dan membaca sedikit terjemahannya. Rasa nikmat yang dalam ketika bacaan Qurannya sampai pada Surah Al-Hasyr ayat yang ke 22…

“..Mereka Itulah orang-orang yang didalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkanNya mereka ke dalam Syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya…”

Malam itu begitu bersahabat dan hening, Seakan semua makhluk bertasbih, dan berzikir mengagungkan nama Tuhannya. Diluar Angin berhembus sejuk menggoyangkan ranting pohon mangga yang sudah mulai berbunga. Kokok ayam sesekali bersahutan. Dan Langit sungguh bersih dengan Bintang bersinar bertaburan. Terlihat gugusan bintang memanjang seperti bekas sungai di langit, terkesan seperti lukisan yang membentang dengan megahnya. Di ujung  langit sebelah barat bulan bekas purnama berwarna kekuningan mulai tenggelam di ufuk. Sepertiga malam itu penuh keheningan dan kekhusyukan.

Selesai dengan bacaan Qurannya dia lalu membuka sedikit gorden jendela kamarnya yang menghadap condong ke arah barat laut. Nampak Bulan yang kekuningan dan langit luas dengan bertabur bintang itu, ia kembali mengucap syukurnya. Ia benar-benar tidak menyangka bisa berada di Kota Ini. Bisa melanjutkan kuliah di Universitas tertua di Indonesia. Dan hidup di Kota yang kultur budayanya menurut nya khas dan Istimewa. Dia memang bukan penerima beasiswa seperti ke dua teman serumahnya. Saat di Aliyah dulu, tidak ada edukasi dari guru BK bahwa ternyata Departemen Agama memiliki Beasiswa bagi para Siswa yang berasal dari Pesantren dan Aliyah. Ia hanya fokus pada Ujian Akhir Nasional dan Ujian akhir Sekolah yang sangat padat.

Disamping pelajaran UAN yang menguras otak. Ujian Sekolah dan Ujian Praktek membuatnya tidak sempat memikirkan hal itu. Dari Mulai hafalan Quran Hadits, Hafalan Sejarah Kebudayaan Islam, Khiwar bahasa Arab, Ujian Nahwu sharaf, Essay Aqidah Akhlak yang dikorelasikan dengan problematika keumatan, Ujian Lab Fisika dan Kimia, Ujian Bedah Organ di Lab biologi sampai Ujian membuat gerakan senam secara berkelompok. Semuanya harus dikerjakan dalam waktu satu bulan. Bagaimana tidak pusing. Seperti tidak ada waktu untuk mencari Informasi perguruan tinggi.

Namun Syukur tetap terucap dari mulutnya bahwa dia bisa melanjutkan kuliah di Universitas tertua ini. Sebenarnya kuliah di Jogja adalah salah satu impian baginya. Tidak seperti kebanyakan temannya yang cenderung mencari perguruan tinggi negeri agar mereka dianggap sebagai siswa pintar, dan bonafit. Anggapan mereka, jika masuk perguruan tinggi negeri semua akan berjalan lancar. Pekerjaan terjamin, bisa membanggakan dirinya atas siswa lain yang hanya masuk di universitas swasta. Padahal, hal itu tidak ada artinya sama sekali.

Ia hanya percaya, bahwa meneruskan kuliah adalah semata untuk mencari Ilmu. Dan baginya Universitas merupakan gudangnya Ilmu pengetahuan, yang didalmnya terdapat berbagai macam Literatur ilmiah, Profesor-profesor yang ahli dalam bidangnya, mahasiswa yang senantiasa diskusi ilmiah. Kesemua itu adalah bahan untuk tegaknya sebuah peradaban.

Masih teringat dengan jelas bagaimana Ustadzah Salamah pernah memberikannya nasihat saat di kelas. “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang amat besar dan memiliki sumber daya yang besar pula, namun kenapa bangsa ini belum dikaruniai Allah mennjadi bangsa yang disegani di dunia? Jawabannya adalah kualitas manusianya. Begitu banyak orang Indonesia yang tidak memiliki cita-cita yang besar. Cita-cita yang mendunia, sehingga menjadikan bangsa ini hanya terkungkung dalam kotak keterpurukannya sendiri. Yang paling utama adalah Ilmu pengetahuan. Kita lihat para Ilmuan Islam di masa kejayaannya mempunyai motivasi yang tinggi untuk menggali ilmu pengetahuan. Mereka banyak melakukan penerjemahan, penelitian, dan mendirikan universitas-universitas dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan. Kaum Muslimin berlomba-lomba mencari ilmu pengetahuan ke berbagai penjuru dunia. Sains yang berasal dari Yunani, Persia, dan China dikembangkan dan dimodifikasi kaum Muslimin menjadi sains yang Islami, sehingga membawa kejayaan peradaban Islam. Kegiatan ilmiah inilah yang oleh DR. Ismail al-Faruqy disebut sebagai Islamisasi sains.

Namun perjalanan sejarah umat Islam mengalami kemunduran yang pengaruhnya sampai kini masih terasa, Sejak abad ke-14, umat Islam mengalami fase kemundurannya. Seiring dengan kemunduran Dunia Islam, ilmuwan Muslim berkaliber intemasional pun semakin langka. Jika pada masa-masa keemasannya terdapat ratusan ilmuwan Muslim di Dunia Islam, maka pada abad ke-14 hanya tercatat empat ilmuwan Muslim, dan pada abad ke-15 hanya terdapat tiga ilmuwan Muslim. Pada abad ke-19 dan abad ke-20, masing-masing hanya tersisa dua ilmuwan Muslim bertaraf intemasional. Alhasil ya beginilah Islam. Lihat saja negeri tercinta kita yang umat muslimnya paling banyak tapi seperti kapas yang mudah terbang ditiup, dan bagai buih yang mudah dihempas kesana kemari. Maka berpikirlah besar, dan temukan cita-cita besarmu untuk memajukan bangsa Indonesia.”

Begitulah sedikit demi sedikit memorinya terbuka kembali, melalui beliaulah inspirasinya tumbuh, cita-citanya tumbuh, dan obsesinya menggelegar keluar dari dalam dirinya. Kuliah di Universitas tertua ini merupakan jalan yang harus ditempuhnya untuk meraih cita-citanya. Ia yakin sepenuhnya bahwa disinilah tempat ia mencari ilmu, mencari pengalaman, dan belajar tentang segalanya. Tak seperti kebanyakan teman Aliyahnya yang bilang..

Alhamdulillah, aku ketrimo ndek sosiologi Unair, tapi sik bingung mengko kerjo opo aku lek wis mari kuliah..”.

Memangnya kuliah itu hanya sekedar untuk mendapatkan gelar? Mendapatkan nilai yang bagus agar mudah masuk kerja? Kalau begitu ada diurutan nomer berapa Ilmu? Bukankah Allah telah berfirman: “Allah akan meninggikan orangorang yang beriman di antara kalian dan orangorang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Sepertiga malam itu dia jadikan untuk muhasabah, dia jadikan untuk sepenuhnya menghadapkan wajah kepada sang pencipta. Sang pencipta yang maha agung, yang mendengarkan do’a hamba di sepertiga malam. Yang bahkan seluruh makhluk menemani beribadah, bagi hamba-hambanya yang mau menegakkan shalat malam. Diluar kamar, kicau burung dan kokok ayam sesekali bersahutan. Pertanda Malaikat utusan Allah mengintip apa yang dilakukan hamba-hamba Allah yang sedang bermunajat.

Daun-daun pepohonan bergoyang, ditiup angin sepoi semilir tipis. Angin yang bertiup merasuk masuk, sejuk disela kolong pintu. Sepertiga malam yang sejahtera hingga terbit fajar pertanda subuh berkumandang.

******

             Adzan Subuh menyadarkan munajat dan do’a khusuknya. Ia segera menyelesaikan do’anya dan bergegas membangunkan ketiga penghuni lain kontrakan sederhana itu. Irul, Aziz, dan Salman. Ketika membuka kamar Salman, ternyata dia sedang duduk diatas sajadah tanda sehabis shalat tahajud. “Alhamdulillah ternyata sudah bangun an?” yuk bangunkan yang lain. Kemudian mereka berempat bergegas ke masjid An-Nuur tak jauh dari kontrakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: