Leave a comment

ETIKA BISNIS ???

  Pernah nonton filmnya Leonardo di Caprio yang judulnya “Inception” ?? awalnya saya kira ini Film action biasa. Namun setelah nonton lebih jauh, ternyata ini adalah Film persaingan usaha. Konon film ini bercerita tentang persaingan usaha antara perusahaan Cool engineering & Fischer Energy yang sama sama bergerak dalam bidang energy. Menariknya jika biasanya persaingan bisnis semacam ini dilakukan dengan Intimidasi, Blokade produk, bahkan pemboikotan hingga black campaign. Di film Inception ini menurut saya caranya lebih kejam dan tepat sasaran. Coba kita lihat..

Di dalam Film ini, diceritakan ada Jasa pencuri informasi yang dilakukan dengan memasuki mimpi seseorang yang menjadi target operasinya. Tentu saja dengan alat dan metode khusus sehingga pencuri Informasi ini bisa masuk ke dalam mimpi seseorang bahkan bisa merancang mimpi seseorang. Pada satu waktu, Mr. Cobb (sang pencuri mimpi) mendapatkan klien dari direktur perusahaan cool enginering untuk menghancurkan Kerajaan bisnis perusahaan Fischer Energy. Sang direktur meminta sebuah “Inception” (permulaan), yaitu menanamkan Ide kepada penerus tahta bisnis direktur Fischer Energy untuk menghancurkan kerajaan bisnis ayahnya sendiri. Ide sederhana yang ditanamkan adalah “Saya akan berusaha sendiri, dan tidak akan meniru gaya ayah saya”. Dan dari sinilah awal mula ide tertanam dalam benak sang penerus tahta.

Film ini sangat menarik dan syarat dengan hikmah. Betapa dahsayat ternyata dampak dari persaingan bisnis seperti ini. Mereka menganggap kompetitor yang muncul adalah sebuah ancaman bagi kelanggengan bisnisnya yang harus segera dimusnahkan dan dihancurkan. Alhasil manusia terjebak pada persaingan yang sesungguhnya tidak harus terjadi.

Beberapa pebisnis terkadang terjebak pada hal-hal semacam ini dikarenakan ketakutannya akan kehilangan profit dan customer yang sudah loyal pada bisnisnya. Padahal jika dilihat lebih jauh, sebenarnya siapa yang mendatangkan para customer? Siapa yang mendatangkan kesuksesan dalam berbisnis, dan siapa yang mendatangkan Rezeki? Semuanya dari Allah.

Jadi saya menuliskan tulisan ini sebagai bahan refleksi bersama bagi kita yang sedang terjun dalam dunia bisnis. Ada beberapa pemahaman dalam Etika berbisnis menurut pemahaman saya yang terbilang masih dalam tahap belajar ini. Okey.. yuk…

Kompetitor adalah teman yang membesarkan

Coba kita pelajari apa yang Rasulullah perbuat dalam bisnisnya, dalm bukunya Syafi’i Antonio Ensiklopedi Muhammad sebagai entrepreneur. Dijelaskan bahwa Nabi Muhammad dalam bisnisnya jeli melihat peluang dan merespon kebutuhan pasar. Barang apa yang sedang laku dijual, dan dimana pasar yang dominan membutuhkan, disanalah beliau pergi. Sampai-sampai dalam satu periode perjalanan bisnisnya, beliau biasa berpindah-pindah negara dan pasar hanya karena mengejar dan memenuhi kebutuhan pasar.

Alhasil bisnisnya sukses dan membawa dagangan yang luar biasa besar ketika kembali ke Makkah. Rasulullah menangkap peluang itu dari kejeliannya membaca keinginan pasar. Walau sudah banyak pedagang yang menjual barang dagangan atau jasa yang sama. Namun beliau tidak lantas kecil nyali, dan tidak menjadikan kompetitor sebagai lawan, namun kompetitor dijadikan teman dengan tujuan agar bisnisnya cepat dikenal.

Contohnya, misal kita jual sepatu. Jika toko yang jual sepatu di sepanjang jalan hanya toko kita maka toko sepatu kita munkin laris. Namun jika ada satu daerah yang disana berjajar toko sepatu sepanjang jalan. Kemungkinan toko-toko sepatu itulah yang lebih laris daripada toko sepatu yang kita buka, karena jika orang tanya “eh gw mau beli sepatu yang kualitasnya oke.. enaknya beli dimana ya”. Orang akan langsung memberikan referensi “oh di Jalan ini aja.. disana tempatnya orang jualan sepatu”. Toko kita bisa jadi tidak direferensikan.

Contoh lagi ada orang tanya “Gw pengen makan bakso disini yang enak dimana ya?”. Orang akan mereferensikan “Oh di sana aja, terkenal sebagai kampung bakso”. Jadi makanan bakso di tempat gerobak atau warung bakso berjajar disatu tempat bisa jadi meraup omset yang lebih besar daripada warung bakso yang berdiri sendiri.

Begitulah, dalam berbisnis apapun kita akan lebih terbantu dalam hal marketing jika kita memiliki kompetitor yang bisnisnya mungkin sama atau sejenis. Era saat ini kian banyak bisnis yang hampir sama ataupun sejenis sebagai bentuk dari respon akan kebutuhan pasar, jadi yang dibutuhkan adalah Inovasi. Rasulullah sangat mengedapankan Kepercayaan dan Kejujuran dalam ber bisnis. Etika yang paling utama, setelah itu barulah pelayanan. Rasulullah menghadirkan Hati kepada Customer. Sehingga customer yang sudah terikat hatinya kepada Pedaganglah yang akan kian loyal. Walaupun fasilitas dari kompetitor kita mungkin lebih unggul dan lebih banyak.

Begitulah menyikapi kompetitor bisnis, tidak seharusnya saling mengintimidasi atau menjatuhkan. Kompetitor bisnis adalah teman yang membangun. Bukan musuh yang harus dimusnahkan. Maju bersama untuk sukses bersama.

Tentang Hak Cipta dan Hak usaha

                Dalam etika bisnis atau apapun, saya sangat menentang praktik praktik Plagiatisme. Karena didalamnya ada hak kekayaan intelektual yang dilanggar. Lantas bagaimana solusi dengan semakin maraknya pebisnis dan bisnis yang sejenis. Bahkan bidang usahanya sama persis?? Persaingan bisnis juga semakin terasa.

Nah itulah pentingnya Inovasi tiada henti. Ehmm.. ada satu sistem bisnis yang diajarkan dari Saptu Ari (Owner Kedai Digital) namanya ATM (Amati,Tiru,Modifikasi). Kalo saya sedikit memodifikasi sistem ATM menjadi sistem ATI (Amati, Tambahi, Inovasi). Perusahaan atau bisnis yang sukses adalah yang melakukan Inovasi tiada henti dalam setiap service kepada customer dan produknya.

Yang namanya Plagiat adalah yang segala hasil produk, baik barang, maupun jasa, hingga segi Sistem perusahaan sangat KEMBAR OTENTIK. Dalm bisnis jika pelayanan dan brand berbeda tidak bisa serta merta disebut plagiat. Jadi berbisnis itu adalah bagaimana kita memiliki Hak usaha dan Inovasi untuk mengembangkan bisnisnya dalam rangka merespon pasar. Jika tidak memiliki Inovasi, maka bisnisnya tidak akan bertahan lama dan akan kalah dengan kompetitor. Lebih baik mempelajari bisnis yang sudah ada dan menambahi serta memberikan sentuhan Inovasi daripada menjiplak. Karena saat ini telah banyak kebutuhan manusia yang terpenuhi dari bisnis.

Maka jadikanlah kompetitor sebagai teman untuk saling tumbuh dan maju bersama, saling belajar dan mengajarkan. Mungkin sistem ATI (Amati Tambahi Inovasi) bisa dipake. So., Easy going aja guys… hehe..

Bisnis bukan untuk menumpuk kekayaan, namun menebar manfaat

                Etika ini yang biasanya dilupakan oleh banyak orang. Walaupun tujuan awalnya orang berbisnis untuk memberikan kesejahteraan dan kemanfaatan bagi sesama, namun ternyata setelah bisnisnya besar dan sukses. Menjadi lupa dan bahkan rakus ingin berkuasa.

Coba kita lihat bagaimana kondisi kesejahteraan Umat Islam saat ini, salah satu cerita saya dapat dari teman tentang kisah para pemulung di daerah bantar gebang. Tempat Pembuangan Sampah Terakhir di Jakarta. Di bantar gebang orang-orang kristen sering memberikan daging babi kepada para kaum dhuafa. Waktu ditanya kenapa mau makan daging babi, kata mereka: ”Karena orang muslim gak pernah ngasih daging sapi, kebetulan ada yang ngasih daging babi, ya kami makan aja. Yang penting kan daging.” Subhanallah,,, betapa miris dengernya.

Bagaimana dampak kemiskinan umat ini jika tidak ada kaum kaya yang benar-benar mau melihat orang-orang ditempat seperti itu. Maka wajib bagi muslim untuk kaya agar bisa membantu saudara muslim yang lain. Jika salah 9 dari 10 (karena haditsny bilang gitu…hehe) pintu Rizki dan kekayaan adalah dari bisnis, maka Bisnis itu menjadi wajib dan menajdi kaya itu adalah tanggung jawab.

Teringat kisah Abdurrahman bin Auf sahabat Rasulullah yang diceritakan paling sukses dalam berbisnis. Beliau menangis ketika mendengar Sabda Rasulullah yang ditujukan khusus bagi sang bisnisman ini. Rasul bersabda. ”Wahai putera Auf, kamu ini orang kaya-raya. Kamu akan masuk syurga dengan merangkak. Karena itu pinjamkan kekayaanmu kepada Allah. Allah pasti memudahkan langkah kakimu.”

Coba kita perhatikan bagaimana setelah beliau mendengar nasihat Rasul. Abdurrahman bin Auf tidak pernah lupa menginfakkan hartanya di Jalan Allah, dan hasilnya kekayaannya semakin bertambah banyak saja. Pernah suatu ketika dia menjual tanahnya senilai 40 ribu dinar (1 Dinar per 4 Oktober 2011 = Rp. 2.344.005,-). Hanya untuk dibagikan kepada keluarganya dari keturunan bani Zuhrah. Juga kepada para Ummul Mu’minin dan pada fakir miskin. Ia juga pernah menyumbangkan 500 ekor kuda untuk kepentingan pasukan perang dan menyumbangkan 1500 kendaraan penuh dengan muatan untuk kepentingan perang.

Sebelum Ia meninggal pun, ia sempat berwasiat untuk menyumbangkan 50 ribu dinar untuk kepentingan Jihad di jalan Allah, 400 dinar untuk setiap pahlawan perang badar yang masih hidup. Bahkan Utsman bin Affan yang terbilang kaya sekalipun juga mendapatkan bagian. Ustman berkata “Harta kekayaan Abdurrahman bin Auf halal dan bersih. Memakannya akan membawa keselamatan dan berkah.”

Pernah dalam satu periode bisnisnya, saat pulang ke Madinah dari berdagang ke Syam. Iring iringan kafilah dagang Abdurrahman bin Auf sebanyak 700 unta penuh barang muatan memenuhi Kota madinah kala itu. Seketika turun dari kendaraannya lantas Ia menemui Aisyah dan berkata “Bunda mengingatkan saya akan sabda Rasulullah yang tidak pernah saya lupakan.” Lalu ia berkata, “Ketahuilah Bunda, semua Kafilah dengan muatannya ini, saya persembahkan untuk perjuangan di Jalan Allah.” Kemudian setelah itu muatan 700 unta itu dibagikan kepada seluruh warga madinah dan sekitarnya. Sungguh suatu pesta yang begitu meriah dan damai. Harta kekayaannya dinikmati oleh keluarga, kerabat, saudara, teman, fakir miskin dan Masyarakat.

Begitulah, baginya Bisnis yang dia jalankan bukan pelampiasan atas sifat rakusnya atau untuk menimbun kekayaan. Baginya, bisnis adalah pekerjaan dan tanggung jawab. Jika sukses akan semakin mengasah jiwanya dan menambah semangat kerjanya. Jadi, bagi para penerus Abdurrahman bin Auf. Mari kita camkan Nasihat khusus yang diberikan oleh Rasul bagi para pebisnis ini.

Karena Rizki itu datang dari Allah. Apapun pandangan orang tentang bisnis yang kita lakukan tak perlu dirisaukan, alangkah lebih baik kita merisaukan pandangan Allah tentang bisnis yang sekarang sedang kita jalankan. Ke arah mana? Barakah atau tidak? Halal atau haram? Karena hidup di dunia ini hanya sementara, dan jangan pula terjebak pada hal-hal yang tidak ada gunanya dalam berbisnis seperti saling menjatuhkan, saling mematikan, dan saling mengintimidasi. Karena kita berbisnis untuk memperkuat perekonomian umat, untuk meneladani Rasul dan sahabat Abdurrahman bin Auf.

Saya jadi berpikir, orang yang tidak berhati hati dalam berbisnis bisa saja terkena penyakit Al Wahn (Cinta dunia dan takut mati) secara samar-samar. Karena disanalah ujian sesungguhnya. Bagaimana dalam menyikapi kesuksesan dan banyak harta saat berbisnis akan menunjukkan pula tingkat KeImanan seseorang. Akhirnya saya hanya bisa berlindung dari perkataan yang saya ucapkan namun tidak saya lakukan. Semoga Allah menuntun langkah kita semua. Wallahu’alam bi Al Shawab.

Semoga bisa membuka hati dan fikiran kita. Keep Fighting with our goal para penerus Abdurrahman bin Auf. Semoga kita bisa sukses bersama dan mengangkat perekonomian ummat. FIGHT!! FIGHT!! FIGHT!! Mari ciptakan Spiritual Company (*kelompok pengusaha yang digagas oleh Ust. Yusuf Mansyur).

Dalam perjalanan Jakarta-Cilegon-Yogyakarta

Baru bisa selesai dan diupload

4 Oktober 2011 pkl 10:15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: