2 Comments

Saudara saudara Rasulullah

Saat itu ia mengumandangkan Adzan yang begitu merdu. Berbeda dengan adzan yang dikumandangkannya pada saat awal pengangkatannya sebagai muadzin masjid nabawi sesaat setelah selesai dibangun. Suaranya kali ini terdengar begitu Indah, merdu, nyaring. Dan membuat orang di seantero pasar Madinah kala itu tertegun.

Barang dagangan segera ditinggalkan untuk memenuhi panggilan Adzan itu. Sontak seluruh warga madinah membanjiri halaman masjid. Mereka melihat di puncak menara bangunan persegi sederhana itu ada sesosok manusia berkulit hitam, yang konon dahulu ia adalah budak yang dibeli oleh Abu bakar dari Abu Jahl.

Ia adalah Bilal Bin Rabah yang didaulat oleh Nabi Muhammad saw sebagai Muadzin Masjid Nabawi di Madinah. Dan tugasnya adalah mengumandangkan Adzan saat memasuki waktu Shalat. Sebenarnya Adzan pada saat itu tidak hanya digunakan untuk panggilan shalat saja. Tetapi Adzan kala itu adalah digunakan pula sebagai sarana untuk memanggil para penduduk agar datang ke masjid walaupun bukan waktu shalat. Seperti pada waktu Rasululla mengumpulkan para sahabat dan penduduk madinah saat mengumumkan perang badar.

Adzan kali ini memang berbeda. Suara Bilal kian merdu, itu bertepatan dengan 9 hari sebelum wafatnya Rasulullah SAW. Saat haji Wada’ itu, turunlah firman Allah SWT ”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nitmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS.al-Maidah:3). Sejak itu tanda-tanda kesedihan dari diri manusia mulia itu telah tampak. Para sahabatpun menangkap Isyarat dari ayat yang turun itu. Terlebih Abu Bakar yang perasaannya begitu sensitif. Dia menangis sesenggukan dihadapan Orang yang begiru ia cintai. Bersabdalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepadanya “Apa yg membuatmu menangis dalam ayat tersebut?”

Abu Bakar menjawab:” Ini adalah berita kematian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.”

Benarlah firasat Abu Bakar, hari demi hari, Rasulullah semakin menampakkan sakit beliau. Abu bakar selalu ingin berada di dekat Rasulullah. Dan pada suatu hari, Sekembalinya Rasulullah dari haji Wada’ kurang dari tujuh hari wafat beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, turunlah ayat al-Qur’an paling akhir yg artinya: “Dan peliharalah dirimu dari (azab yg terjadi pada) hari yg pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yg sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS.al-Baqarah:281).

Hari itu seketika beliau menyatakan keinginannya untuk ziarah ke makam para syuhada uhud. Keesokan paginya Beliau pergi ke lokasi makam dengan ditemani beberapa sahabat beliau termasuk Abu Bakr. Sesampainya beliau di makam para syuhada uhud beliau berdiri di tepi makam para sahabatnya yang begitu beliau cintai itu.

Rasulullah berkata “Assalamu’alaykum ya syuhada uhud, Kalian telah lebih dahulu dan kami akan menyusul kalian, dan kami Insya Allah akan bertemu kalian dalam perjalanan pulang”.

Sekian lama beliau berdiri di tepi makam, Hatinya yang lembut itu meleleh dan bergetar. Entah kapan hal itu terjadi tiba tiba saja pipi putihnya basah oleh air mata. Rasul SAW menangis, para sahabat kaget dan kemudian bertanya tentang sebab tangisannya.

Dengan nada lirih, Nabi Allah itu mengatakan. “Aku merindukan saudara-saudaraku”.

“Bu..Bukankah kami ini adalah,. adalah saudara-saudaramu ya Rasulallah?” tanya salah seorang sahabat dengan agak terbata.

“Tidak” jawab Rasulallah.

“Kalian adalah sahabat-sahabatku, “

“adapun saudara-saudaraku adalah orang yang setelahku tapi mereka beriman kepadaku meskipun tidak melihatku”

Para Sahabat pun tergetar hatinya mendengar jawaban seperti itu. Bagaimana tidak, Nabi Allah ini sungguh sangat menyayangi ummatnya. Bahkan orang yang belum ada didunia ini dan tidak dikenalnya yang kelahirannya masih jauh berabad –abad kemudian. Cinta dan Rindunya menembus batas-batas milenium. Kerinduannya adalah kerinduan yang tulus. Abu bakar yang berada diantara para sahabat itupun ikut menangis.

Selama ini memang Abu Bakar sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah. Dia yang mampu merasakan apa yang dirasakan oleh Utusan Allah itu. Dialah yang rasa Empatinya paling besar terhadap Rasulullah. Sungguh Hati Rasulullah lembut dan halus.Cintanya pada Ummatnya sungguh luar biasa.

Abu Bakar hanya berharap dan bertanya-tanya. Apakah suatu saat Cinta Rasulullah ini bisa tersebar kepada umat Islam yang datang dikemudian hari. Apakah Umat Islam di masa yang akan datang mampu meneladani beliau, mampu merasakan kerinduan yang sama, apakah umat islam yang akan datang juga merindukan beliau yang merindukan dirinya? Ataukah menganggap Rasulullah hanya cerita fiktif belaka. Namun dia yakin bahwa akan ada Sebagian kecil Umat Islam yang sungguh menjadikan Rasulullah sebagai pribadi yang selalu dirindukan. Semoga Umat Islam kelak menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai tauladan utama.

Setelah ziarahnya itu. Hari semakin hari Rasulullah mengalami sakit yang kian parah. Ditemani Ali dan fathimah di rumah beliau, beralaskan pelepah Kurma. Beliau wafat dengan ucapan Ummatii…Ummati… Ummatii…

Allahumma Shalli ‘Alaa Muhammad…

*******

Setelah Nabi Muhammad saw wafat, Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan dengan suara yang lebih merdu dari sebelumnya. Namun saat sampai pada kalimah “Asyhadu Anna Muhammada Rasulullah”.. Bilal pun menangis dan tidak mampu meneruskan Adzan Merdunya itu….

*Inspirasi dari Shirah Nabi Muhammad fase wafat

Magelang, 27 September 2011

Pukul 09:46

2 comments on “Saudara saudara Rasulullah

  1. pertamanya…
    yuk temukan resep
    sindrom “keliling dunia dengan menulis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: