Leave a comment

Kitalah Para Musafir Cinta

Selepas subuh, pikiran ini melayangkan satu kata, tentang “Cinta”. Memang indah kata ini untuk selalu dikatakan. Ia akan sangat mempengauhi hati ketika mengingat dan mengatakannya. Adanya Naluri manusia memang ketika cinta itu datang, akan dengan sungguh sungguh orang memperjuangkannya. Allah memang telah mengatur itu semua dalam hati manusia yang memiliki rasa Cinta. Jikapun ia tidak memilikinya apa jadinya bumi ini. Maka salah satu penjagaan Allah adalah dengan kata Cinta.

Bagaimana rasanya jika kita jatuh cinta? Tentu saja membuat hati berbunga-bunga, gundah menjadi gembira, menangis menjadi tertawa, dan lebih bersemangat dalam menjalankan aktivitas, apalagi jika seseorang yang kita cintai berada di dekat kita. Ya, karena cinta adalah sebuah perasaan ingin berbagi bersama, sebuah aksi aktif berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, patuh, dan lain sebagainya.

Kata Cinta menurut Imam Ibnu Al-Qoyyim Al-Jauziyah memberikan beberapa istilah tentang pemaknaan cinta, di antaranya mahabbah (kasih saying), ash-shabwah (kerinduan), asy-syaghaf (cinta mendalam), dan al-‘isyqu (cinta yang meluap-luap). Ada sekitar 60 makna cinta yang diberikan oleh ulama murid dari Imam Ibnu Taimiyah ini.

Cinta tak akan pernah habis dibahas dari sudut pandang literatur manapun, karena memang begitulah cinta. Bahkan jika mau, setiap orang dari bermilyar penduduk dunia mampu mendefinisikannya tanpa literatur. Jadi satu kata cinta bisa saja memiliki definisi bermilyaran pula.

Namun ada satu difinisi yang sangat meresahkan saat pikiranku berkelebat lebih jauh tentang cinta. Kata ini sungguh bagaikan anak panah yang sangat tajam dan menghujam seketika tertancap. Ia akan meluluh lantakkan segalanya. Ia bahkan bisa bermanuver mengejar ke bagian yang lain walau satu busur panah telah tertancap dan menghasilkan kerusakan yang sangat besar. Bagaikan anak panah api, bahkan ia dapat membakar sekali ia menancap. Definisi cinta ini sangat menakutkan. Sampai-sampai hampir saja ku ingin berlari jauh dan menghindar dari anak panah yang melesat dari busur panah penuh kebencian ini. Padahal definisi itu hanyalah “Cinta Buta”.

Apa yang salah dari “Cinta Buta”?? Sepadankah ia dengan Fanatisme Buta? Sepadankah pula ia dengan ashobiyah? Lalu sepadankah ia dengan Taklid buta?? Dan sepadankah ia dengan primordialisme? Chauvinisme? Dan berbagai –isme yang menunjukkan hal yang serupa dengan kata-kata itu? Jika ya. Berarti definisi Cinta yang satu ini berujung pada satu kata “Perpecahan”.

Betapa Umat Islam yang Allah telah anugrahkan didalamnya sifat persatuan terkadang melupakan ayat ini “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat Rahmat.” (Al-Hujuraat: 10). Mereka seakan Cinta dengan golongan mereka, cinta pada metode perjuangan golongan mereka, merasa bangga jika termasuk dalam organisasi Islam tertentu. Sampai-sampai mengkafirkan, mencemooh, menjuluki golongan lain sebagai Khawarij, menuduh bersekongkol dengan Thaghut, tidak mengikuti ahlu sunah wal jama’ah, dan berbagai prasangka lain yang semakin menimbulkan satu kata menakutkan “PERPECAHAN”.

Ingatkah ketika Rasul yang Agung menyebarkan Islam pertama kali dengan penuh rasa Cinta? Dengan sabar satu persatu kaum Qurays yang telah kehilangan hakikat Cinta itu didatangi dan di do’akan agar mereka bersatu dalam satu Aqidah. Selama 13 tahun beliau di Makkah untuk menyerukan dua kalimat Cinta. Yaitu dua Kalimat Syahadat yang syahdu menggetarkan hati jika di dalam hati memang ada cahaya hidayah Keimanan. Jika di dalam hati memang ada pohon Cinta. Cinta dari syapa? Cinta dari Rabb yang menghendaki hidayah bagi hambanya, yang memberi nikmat secara Cuma-Cuma.. “….dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karuniaNya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana….” (Ali Imran: 103)

Ingatlah ketika dengan Cinta Rasulullah mendoakan dua Umar untuk bersatu memperkuat perjuangan Islam. Ingatlah ketika Abu bakar membeli Bilal saat ditindih batu oleh Abu Jahal dan dibebaskan. Ingatlah ketika Khalid berbalik membela Rasulullah sehingga dalam sejarah ummat Islam memiliki Ahli perang yang gagah berani. Ingatlah ketika Anshar dan Muhajirin dipersatukan tatkala Hijrah sehingga Ukhuwah dan Itsar menumbuhkan Cinta yang menjamur. Ingatlah Shalahuddin Al Ayyubi membebaskan Al Quds, Ingatlah ketika Sultan Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel. Ingatlah ketika para Ulama Besar bermunculan, dan Keilmuan berkembang pesat mereka memiliki satu guru layaknya 4 Imam Madzhab, namun memiliki perkembangan pola pikir yang khas. Sesungguhnya mereka tetap satu dalam keutuhan, saling menghargai dan bertoleransi. Mengapa? Karena ada Cinta dibalik itu semua. Kita adalah Ummat Muhammad yang hingga akhir beliau mengatakan dengan penuh cinta Ummati…Ummati…Ummati.

Semuanya tentang Cinta dan Cinta memiliki satu konsekuensi yaitu Persatuan, satu Aqidah, sama pedoman Hidup yaitu Al-Quran dan Sunnah. Dan tahukah sesungguhnya kita semua berada dalam satu barisan, dan satu jalan yang sama, walau mungkin beda gerbong, bahkan kendaraannya pun berbeda. Namun tak masalah selama ada Cinta. Selama kita Cinta pada tujuan kita. Selama kita Cinta pada Warisan Rasulullah saat Haji wada’. “Telah kuwariskan kepada kalian dua sumber, bila kalian berpegang kepada keduanya, niscaya kalian takkan sesat, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.” (HR. Muslim)

Dan satu Istilah yang saya sematkan dengan penuh Ta’zim pada kalian duhai para pejuang di Jalan ini adalah. “Para Musafir Cinta”. Kitalah para Musafir Cinta Saudaraku, kita telah dipersatukan sejak zaman para Rasul. Dan para Sahabat, kita adalah bagian dari kemenangan Fathu Makkah, kita adalah bagian dari kemenangan Al-Quds, kita adalah bagian dari kemenangan Konstantinopel, dan kelak kita juga adalah bagian dari kemenangan Romawi Bizantium. Karena kita adalah ummat yang satu.

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama dan apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya.” (Asy-Syura: 13)

Hanya saja mereka telah berada di depan jalan ini mendahului kita. Mari kita kejar bersama sebrapapun kecepatan kita. Pada akhirnya kita tetap dipertemukan dan dipersatukan. Karena Kitalah Para Musafir Cinta, Kita pasti kan bertemu di Jalan. Layaknya para musafir, saling membantu mencapai tujuan. Dan biarlah Allah yang mempersatukan Iman kita semua.

“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) di bumi, Niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Q.S. Al-Anfal: 63)

Malang, 10 Juli 2011

pukul 7:47

Saat Cinta Membuncah pada Indahnya perjuangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: