Leave a comment

Madrasah Peradaban

               Suatu pagi tiba tiba beliau bertanya tidak seperti biasa, sempat memutar otak dan menguras tenaga berpikir untuk menemukan jawaban yang paling tepat. Tak tau kenapa saat pertanyaan itu terlontar dari mulut beliau, ia seakan adalah pertanyaan yang memiliki jawaban yang sangat penting dan wajib untuk dijawab secara tepat. Pertanyaan itu terulang kembali dan menghujam untuk yang kedua kalinya dengan lebih berwibawa. Memoriku tak punya bekal yang cukup untuk menjawab dan belum juga kutemukan jawabannya.

             “Apa Persepsimu tentang Keluarga?” tanya Beliau, Akhirnya ada jawaban yang muncul “Ia adalah INSPIRASI.” Kemudian tak diduga beliau mengejar dengan pertanyaan,”Bagaimana penjelasannya, kok bisa?” Jawaban yang muncul seketika, ” karena di dalamnya ada yg baik, ada yg belum baik, maka muncul apa yg akan kulakukan jika memiliki keluarga. Ia tentang Ketauladanan bagi anggota keluarga yang lain. Tentang mendidik para anggota keluarga yang ada di dalamnya. Tentang membentuk Akhlak”.

              Lalu tanggapan beliau yg seorang kepala keluarga itu, “jawaban dari pertanyaan tadi tidak ada yang salah, hanya saja setiap orang pasti memiliki persepsi yang berbeda terhadap keluarga yang ia berada di dalamnya, atau sekedar pandangan orang terhadap keluarga-keluarga yang lain. Dan persepsi yang muncul bisa menunjukkan 2 hal. Pertama bisa menunjukkan kondisi keluarganya. Atau  yang kedua bisa menunjukkan bagaimana proses seseorang itu tumbuh di dalam keluarganya.”

                Pembicaraan singkat itu cukup membekas di dalam memori dan memunculkan banyak pola pikir setelahnya mengenai kata “keluarga”. Seperti kata apapun yang bisa didefinisikan, bahwa definisi dari kata “keluarga” bukan sesempit orang menganggap keluarga yang tercipta dari hubungan antara ayah dan ibu. Namun ada dua kata yang sangat indah ku temukan dalam berkas ruang diotak, yaitu “Madrasah Peradaban”. Coba kita kembangkan perlahan dua kata yang menakjubkan ini dari dua pola pikir.

               Dari berbagai definisi yang ada Madrasah berarti sekolah, tempat belajar, tempat pendidikan secara holistik dan menyeluruh meliputi segala segi kehidupan. Mengapa holistik? Ya, karena pendidikan di dalam keluarga itu bukan hanya bagaimana salah satu anggotanya pintar dalam bidang akademik saja. Bukan itu hakikat dari pendidikan, namun kembali pada perspektif bahwa dalam satu keluarga itu adalah tentang membentuk satu karakter, yang keluar sebagai Brand individu maupun satu komunitas, maka ia tentang membentuk akhlak. Dia akan memunculkan satu Branding yang khas ketika dia bersama berada dalam satu “Keluarga” itu.

            Artinya ia akan secara Holistik membentuk apa yang dinamakan “potensi kebaikan” dalam analogi matematika ia adalah Vector yang merupakan kuantitas yang diwakili oleh dua arah sehingga muncul besarannya. Ya, di dalamnya ada banyak anak panah yang saling melengkapi untuk membuat satu karakteristik Vector tertentu. Dan arah Vector tertentu. Kemudian banyak Vector akan tercipta untuk membentuk Vector yang lebih besar lagi. Ia adalah Vector peradaban.

           Sekarang coba kita analogikan dengan polapikir lain yaitu Madrasah yang dibangun dari kehidupan keluarga yang sesungguhnya (dari pasangan ayah dan ibu). Betapa beberapa bangsa yang zalim mengubur peradabannya sendiri. Negeri yang memiliki beberapa juta pasangan sejenis, negeri yang mengaborsi bayi-bayi generasi penerus karena ayah-ibunya hanya menginginkan nikmat sesaat. Negeri yang pemudanya tenggelam dalam lautan syahwat tak bertepi. Bayi-bayi yang lahir adalah bayi-bayi yang tak diharapkan. Seting sosialnya terbangun untuk memberontak, melawan, dan menghancurkan lingkungan yang telah menolaknya.

           Di satu sisi alhamdulillah ada yang berusaha mengamalkan sabda Rasulullah untuk berketurunan banyak agar bisa dibanggakan atas umat yang lain. Kemudian Jundi-jundi kecil itu hidup dalam asuhan Iman, siap menggantikan tempat kosong yang ditinggalkan oleh bayi-bayi teraborsi, pasangan-pasangan sejenis tanpa keturunan, atau mungkin orang-orang yang ragu akan Rizki dan kuasa Allah dengan dalih lemah ekonomi. Padahal Allah dengan jelas menjanjikan

“dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi Rizeki kepada mereka dan juga kepadamu….” (Al Israa’ 31)

           Dan Alhamdulillah, kita tinggal menanti, bumi ini dihuni bahkan dipusakai oleh banyak hamba Allah yang shalih. Mengapa? Karena para ahli Iman bersemangat untuk berketurunan dan mendidik anaknya, sedangkan ahli kekufuran bersemangat untuk mengaborsi generasi penerusnya. Disebut apakah ini?? Ini juga Vector Peradaban.

            Cukup dua pola pikir itu saja bisa menjelaskan tentang definisi “keluarga” kan? ia adalah sekumpulan orang yang membuat suatu ikatan dan menuju satu tujuan yang sama. Dengan maksud untuk menjadikan para anggotanya terdidik dan saling membantu untuk menemukan potensi kebaikan.

             Di dalamnya ada ketauladanan, ada kasih sayang, ada pendidikan, ada pertukaran pengalaman, ada saling menguatkan, ada saling keterdukungan, ada saling membutuhkan, ada saling menolong, adanya saling belajar dan mengajarkan, adanya saling mengingatkan, adanya saling menjaga, juga ada Ukhuwah dan Itsar. Sehingga ia memunculkan sesuatu yang ku sebut Branding.

             Seperti saat Risalah Islam bermula dari Keluarga Rasulullah, kemudian kembali dia membangun pertemuan keluarga (Usrah) yang dihadiri oleh para sahabatnya di Daar Al Arqam terus menerus melakukan pembinaan, para sahabatpun menyebarkan risalah agung ini kepada keluarganya masing-masing. Ada salah satu kisah yang bisa dijadikan tauladan. Saat itu ketika Amr bin Yassir pulang kerumah orang tuanya dari Daar Al Arqam dan bertemu dengan mereka, ia menyampaikan apa yang telah salah dari kehidupan Qurays yang menyembah berhala. Pertama ia memang ditentang, namun dengan penjelasan dan tutur kata yang sopan, Amr bin Yassir berhasil menjadikan kedua orang tuanya Muslim. Dan mendukung dirinya untuk memperjuangkan Islam. Ini adalah salah satu contoh tersebarnya kebaikan dari keluarga kepada keluarga. Saling mengingatkan, saling menasihati, saling menguatkan, dan saling menyelamatkan.

            Seperti itulah pola pikirku berkembang. Dengan begitu kita bisa membangun keluarga dimanapun dan kapanpun juga, dalam satu Lingkaran persaudaraan, dalam satu amanah, dalam satu organisasi, dalam satu Perusahaan bahkan didalam suatu persahabatan.  Disana ada Madrasah Peradaban. Walau ia hanyalah diferensiasi dari Madrasah Peradaban utama dari pertalian darah seorang Ayah dan didikan kasih sayang Bunda. ia akan menegaskan apa yang dikatakan Allah dalam Al-Quran “…bahwasannya bumi ini akan diwarisi hamba-hambaKu yang Shalih!” (Al-Anbiya’: 105)

 

Malang, Jumat 8 Juli 2011

Pkl 11.05

Teruntuk yang pernah terhimpun menjadi keluarga dari latar blakang apapun

Semoga Do’a Rabithah menguatkan ikatan kita

Dan kepada saudara muslim yang teguh dalam ke Istiqomahan,

InsyaAllah kita adalah Keluarga di Syurga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: