Leave a comment

Keliling Dunia Yok…

Ini hanyalah Secangkir garapan tulisan salah satu obsesi diri, ditengah Istirahat garapan Tugas akhir. Kenapa secangkir? Ya karena obsesi ini sepertinya akan terus hangat sehangat minuman pagi kopi susu, atau teh, atau sekedar kopi, atau bahkan hanya sekedar minuman air bening (air putih) yang anget. Dan bikin seger di cuaca dingin pagi hari yang akhir-akhir ini mencapai suhu 190 Celsius. Enak kan rasanya “menyerupuut” yang anget saat darah dikepala ini terasa beku. Hmm,, begitu kira-kira analogi yang ku pakai terhadap salah satu obsesi diri ini.

Obsesi ini sebenernya sudah ada sejak kecil, ketika bunda menanyakan. “cita-citamu apa?”. Jawaban spontanku.”Keliling Dunia”. Dan Beliau menimpali. “baguus”. Hanya itu yang ku ingat sampai sekarang dan terekam dalam pita memori masa kecil. Sempat cita-cita itu terlupakan. Namun dalam alam bawah sadar, ternyata 2 kata tentang cita-cita itu tertanam sangat kuat “KELILING DUNIA”. Terkesan sangat hebat bukan?

Kemudian cita-cita itu seakan ditancapkan dengan teguh dan kuat ketika muraja’ah surah Al-Mulk ayat ke 15. Coba perhatikan ini:

“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari Rezeki-Nya. Dan hanya kepadaNyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (Al-Mulk: 15)

Kata “Famsyuu” disana gabungan dari hurf dan Fi’il Amr (Kata kerja perintah). Itu artinya menjelajahi bumi kemanapun ke segala penjuru adalah perintah Allah. Menurut saya ini tidak sesederhana itu. Sederhana dalam artian untuk jalan-jalan atau shopping, seperti yang dilakukan kebanyakan orang berduit. Hmm,, tapi sebenarnya sah-sah saja sih, toh duit duit mereka sendiri.

Lanjutan dari “…maka jelajahilah di segala penjurunya…” adalah “…dan makanlah sebagian dari Rezeki-Nya…”. jadi pertanyaannya adalah untuk apa perintah “..Jelajahilah..” itu? Jawabannya adalah untuk mencari Rezeki. Sy mengkontekskan Rizki relevan dengan Kekayaan. Dan jika dijadikan kata ganti dari Rizki bunyinya menjadi “…dan makanlah sebagian dari Kekayaan…” Namun saya tidak menganggap kekayaan itu adalah kaya Harta saja. Karena kaya harta adalah salah satu dari 3 Fitnah terbesar manusia selain Tahta dan Wanita. Karena memiliki harta yang banyak lantas bisa sesukanya pergi Keliling dunia dan ber foya-foya. Bukan seperti itu.

Kaya yang saya maksud memiliki banyak dimensi yaitu, Kaya Ghirah (semangat), kaya input (masukan ilmu, wawasan, serta pengalaman), kaya output (ide,gagasan,inovasi, kreatifitas), kaya Ibadah (amal), kaya hati, dan terakhir baru kaya harta. Itulah dimensi kekayaan. Justru kaya harta menduduki peringkat terakhir agar tidak takabbur ketika mendapatkan harta yang banyak.

Coba kita kembali flash back kisahnya Abdurrahman bin Auf yang seorang tokoh saudagar kaya raya, beliau memiliki kekayaan harta sebenar-benarnya. Beliau sering menangis meratapi harta kekayaannya, mengingat harta kekayaannya itu tidak akan menolongnya menggapai syurga. Betapa perkataan indah dari mulutnya ketika maut menghampiri “Aku khawatir, aku akan ditahan dari para sahabat-sahabatku karena banyaknya kekayaan yang aku miliki,”. Demikian Akhlaq yang dicontohkan beliau bahwa kekayaan nya justru lebih banyak tidak dinikmatinya, namun untuk keperluan Perjuangan menopang perjuangan Islam.

Abdurrahman bin Auf menyumbang kendaraan paling baik kepada Rasulullah yaitu Unta dari jenis Al-Qashwa, kuda yang bisa berlari paling cepat, dan keledai dari jenis yang terbaik. Mungkin kalo sekarang analoginya Toyota Alphard, Ferrari dengan CC paling tinggi, dan honda Jazz. Hehe.. dan tahukah beliau juga memiliki 20 ekor ternak unta lagi yang jenisnya hampir sama dengan Al-Qashwa. 1/5 nya disumbangkan di Jalan Allah. Ini menunjukkan semua dimensi kekayaan itu berada pada diri Abdurrahman bin Auf.

Nah, cukup flash backnya, kita kembali pada “Keliling Dunia”. Keliling dunia itu jika menurut Surah Al-Mulk diatas merupakan perintah Allah dan di Syari’atkan di dalam Al-Quran tentu saja dengan maksud tertentu. Coba kita renungkan sebentar bagaimana keterpurukan umat Islam saat ini, khususnya umat Islam di sekitar kita aja deh. Tidak adanya cita-cita kuat untuk mendunia menjadikan umat islam terkungkung dalam kotak keterpurukannya sendiri. Yang paling utama adalah Ilmu pengetahuan. Kita lihat para Ilmuan Islam di masa kejayaannya mempunyai motivasi yang tinggi untuk menggali ilmu pengetahuan. Mereka banyak melakukan penerjemahan, penelitian, dan mendirikan universitas-universitas dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan. Kaum Muslimin berlomba-lomba mencari ilmu pengetahuan ke berbagai penjuru dunia. Sains yang berasal dari Yunani, Persia, dan China dikembangkan dan dimodifikasi kaum Muslimin menjadi sains yang Islami, sehingga membawa kejayaan peradaban Islam. Kegiatan ilmiah inilah yang oleh DR. Ismail al-Faruqy disebut sebagai Islamisasi sains.
Namun perjalanan sejarah umat Islam mengalami set-back yang pengaruhnya sampai kini masih terasakan, Sejak abad ke-14, umat Islam mengalami fase kemundurannya. Seiring dengan kemunduran Dunia Islam, ilmuwan Muslim berkaliber intemasional pun semakin langka. Jika pada masa-masa keemasannya terdapat ratusan ilmuwan Muslim di Dunia Islam, maka pada abad ke-14 hanya tercatat empat ilmuwan Muslim, dan pada abad ke-15 hanya terdapat tiga ilmuwan Muslim. Pada abad ke-19 dan abad ke-20, masing-masing hanya tersisa dua ilmuwan Muslim bertaraf intemasional. Alhasil ya beginilah Islam. Lihat saja negeri tercinta kita yang umat muslimnya paling banyak tapi seperti kapas yang mudah terbang ditiup, dan bagai buih yang mudah dihempas kesana kemari.

Menurut ahli Psikologi, karena kebanyakan orang dinegeri ini bersifat Kalem, Permisif, dan Plegmatis. Tidak memiliki karakter yang kuat, dan cenderung menrima apa adanya dengan kondisi yang ada. Tidak ada keinginan yang kuat untuk berubah. Bahasa lebih kerennya, tidak memiliki Visi Besar. Nah loh. Dampaknya terkungkung pada kotak “Konsumtif” dan tidak “produktif”.

Ingat ketika Rasulullah didekap erat oleh makhluk yang tinggi, besar, kekar di Gua Hira’?? Makhluk itu bilang IQRA’… Rasulullah bilang, “saya tidak bisa membaca, hingga 3 kali dan jawaban terakhir beliau, “Apa yang harus saya baca?” dengan nada tegas nan lembut makhluk yang mengaku malaikat Jibril itu berkata: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang MahaMulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-‘Alaq: 1-5).

Pahamilah dengan sudut pandang ..Jelajahilah.. pada surah Al-Mulk. Bukan hanya baca dalam arti membaca teks saja. Tetapi bacalah segalanya, bacalah potensi alam dimanapun, bacalah kehidupan sosial dimanapun, bacalah kondisi lingkungan apapun. Karena dengan begitu Allah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui.

Ada Syair Indah yang sangat menginspirasi dari Imam Syafi’i yang bunyinya:

Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Pergilah, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

 

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia kan keruh menggenang

Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran

Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman

Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang

 

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang

Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan

Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan

Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan


(Al-imam asy-Syafi’i)

Jadi, layak disebut apa ya secangkir obsesi hangat dengan visi Mendunia ini?? Hmm,,,Sang Penjelajah? Bolang? Si petualang? Pencari Ilmu? Penjelajah? Back Packer.. Nah iya. Penjelajah Peradaban!!! aja Oh atau cukup sebut saja saya sesuai surah ini:

“…dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah.” (QS. Al-Muzzamil: 20)

Malang, 4 Juli 2011

Dinginnya masih sekitar 210 Celsius

Blog: http://www.alfasandi.co.cc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: