Leave a comment

Pemikiran Tentang Pembenahan Ranah Kesehatan

 

Ranah Kesehatan belum menjadi isu yang penting dibicarakan di Indonesia, padahal Liberalisasi kesehatan sudah nampak walaupun dengan dalih efek dari sistem yang ada maupun memang sengaja dibentuk sistem semacam ini. Lebih lagi pada agenda debat capres-cawapres pra pilpres, tidak ada isu kesehatan yang secara signifikan dibahas dan dibicarakan secara mendalam dampak baik, buruknya.

Kesehatan sangat berpengaruh pada kemajuan perekonomian dan kesejahteraan di negeri berkembang dan negara maju manapun. Bapak Indra Bastian., Ph.D pakar ilmu ekonomi dan penulis buku Akuntansi Kesehatan menyatakan analisisnya terhadap hal ini. Bayangakan ketika satu orang sakit selama satu hari yang satu harinya diberi waktu 8 jam kerja, pendapatan sehari 30ribu. Dan tidak berobat, maka hasilnya dia 2 kali mengalami kerugian. Rugi waktu 8 jam menganggur, dan 30ribu penghasilan. Jika ini terjadi pada 1 juta orang katakanlah. Dan dihitung mempunyai jam kerja sama dan potensi pendapatan yang sama berarti kerugiannya akan mencapai 30ribu kali 1 juta dan 8 jam dikali 1 juta, sehingga ini akan mempengaruhi pendapatan (GNP) negara itu sendiri. Terlebih lagi jika yang sakit orang-orang dibawah garis kemiskinan yang tidak mampu membiayai biaya pengobatan. Maka kerugian negara sudah pasti akan berlipat-lipat seperti sekarang.

Analisis ini cukup ilmiah jika di integrasikan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat dan ekonomi masyarakat serta etos kerjanya. Dan dalam hal ini menurut saya ada beberapa pokok isu yang mendesak untuk setidaknya diperhatikan dan dikaji ulang. Melingkupi Anggaran Nasional Kesehatan, Kemandirian Kesehatan, reformasi birokrasi prangkat layanan kesehatan, Pengaturan Perindustrian Kefarmasian danTembakau.

  1. Anggaran Nasional Kesehatan

Baru-baru ini banyak muncul kasus yang sangat memprihatinkan terkait minimnya akses kesehatan yang diterima masyarakat menengah kebawah. Pernah ada satu kasus tumor pipi ganas yang diderita anak usia sekolah yang kebetulan orang tuanya tidak mampu membayar biaya operasi dan penyembuhan terapinya. Maka anak tsb ditahan di rumah sakit pemerintah tempat ia dirawat tanpa ditindak lanjuti untuk segera diangkat tumornya. Terbentur pada biaya. Contoh yang lain adalah penahanan terhadap bayi yang baru lahir karena orang tua bayi tidak mampu melunasi biaya yang diajukan oleh pihak rumah sak


it. Dan masih banyak yang lain.

Negara indonesia adalah negara berkembang dan oleh karena itu Indonesia adalah negara Walefare state (negara kesejahteraan) oleh karena itu semestinya Kesehatan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah (idealnya). Namun sampai tahun 2009 anggaran kesehatan dari APBN sendiri masih sekitar 1,5-2%, padahal menurut standar WHO seharusnya standar biaya kesehatan di suatu negara berkembang adalah 5% dari total anggaran APBN. Maka setidaknya pemerintah mendatang bisa menganggarkan lebih ataupun setidaknya 5% dari total APBN untuk ranah kesehatan.

  1. Kemandirian Kesehatan

Pada sekitar tahun 1974 Indonesia menandatangani kontrak kerja sama dengan salah satu badan militer AS yaitu NAMRU-2 (Naval Medical Research Unit 2). Yang merupakan laboratorium biologi milik angkatan laut AS bergerak dalam bidang penelitian terhadap penyakit-penyakit menular. Di Indonesia lembaga ini memiliki kekebalan diplomatik dimanapun dia berada dan mampu menembus intelijen Indonesia dan dokumen-dokumennya. Ini sangat fatal dan berbahaya, sangat tidak masuk akal kenapa pihak asing bisa leluasa bermain di ”rumah” Indonesia yang seharusnya hukum dan peraturan bisa tegas terhadap pihak asing dalam hal ini NAMRU-2 tersebut. Hingga muncul kasus flu burung dan vaksinnya yang sangat mahal dibeli dari AS, H1N1 dsb.

Perjanjian kerjasama ini seharusnya berakhir sejak lama, namun entah kenapa Menkes selalu memperbaharui perjanjian. Hingga tahun 2005 kemarin perjanjian juga telah usai, namun entah kenapa hingga saat ini belum juga hengkang dari negeri ini dan masih terus menjalan kan aktivitasnya. Kita melihat hal ini mempengaruhi kebijakan terhadap kesehatan di Indonesia dan mempengaruhi kemandirian itu sendiri. Kerja sama memang penting, tetapi dalam kasus NAMRU-2 sudah mengarah pada Imperialisme dan Intervensi kesehatan. Maka wajib pemerintah meninjau ulang kerjasama dengan pihak asing.

  1. Reformasi Birokrasi Prangkat Layanan Kesehatan

 

Masih banyaknya kasus-kasus seperti penderita kangker dan penahanan bayi menunjukkan masih lemahnya pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia. Bentuk dari Liberalisasi dalam hal ini adalah rumah sakit pemerintah yang statusnya diubah menjadi BLU (Badan Layanan Umum). Yang akhirnya mengarah pada komersialisasi jasa kesehatan. Kesulitan mengakses Jamkesmas dan pengurusan yang berputar. Serta data penduduk miskin yang pada akhirnya menempatkan pada kriteria miskin yang kabur dan tidak merata. Mungkin perangkat-perangkat layanan yang digunakan pemerintah sudah baik, namun sistem birokrasi yang dijalankan belum efektif. Sehingga aksesnyapun tidak merata. Contoh kecil, penderita kangker di atas yang mengajukan Jamkesmas pada rumah sakit pemerintah, diminta rujukan terlebih dahulu ke pemda untuk dibuatkan jaminan, dan ternyata biaya tanggungan dari APBD telah habis, dan diminta kembali ke rumah sakit untuk rujukan beberapa biaya obat saja.

  1. Pengaturan Perindustrian Kefarmasian dan Tembakau.

Saat ini pajak cukai Industri farmasi masih cukup tinggi sedangkan bahan obat 95% impor sehingga produksi obatpun melonjak ontuk obat-bermerk. Ironisnya biaya pajak cukai Industri Rokok (tembakau) sangat murah dan harga jual produknyapun murah dan dapat terjangkau oleh masyarakat luas. Rokok dan tembakau sangat berbahaya bagi kesehatan. Dan parahnya konsumsi rokok di Indonesia berada di dalam lingkup yang  cukup tinggi di banding negara-negara di dunia. Padahal di negara-negara lain rokok dan tembakau pajak cukai dan harga jualnya cukup tinggi dan mahal, sehingga aksesnya sangat terbatas. Itupun di dalam kemasan produk maupun produksi iklan memngenai bahaya rokok sangat gencar dan masif dilakukan. Sehingga konsumsi rokokpun bisa ditekan.

Indonesia juga belum menandatangani FCTC(Framework Convinence of Tobacco      Conference) kesepakatan negara-negara berkembang untuk mengatur masalah rokok ini secara undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengikat. Jika biaya cukai rokok dapat ditingkatkan dan biaya cukai produksi obat dapat diteken serendah-rendahnya, maka biaya obat murah bahkan gratispun bisa diusahakan.

Lagipula jika regulasi tentang tembakau ini dapat diintegrasikan dengan kebijakan nasional Kesehatan. Maka pencegahan penyakit kronis-akut mungkin dapat turun beberapa persen.

 

Memanga masih banyak permasalahan di segala sisi kehidupan dari negara ini yang membuat dan setidaknya menjadikan kita sebagai mahasiswa sadar akan mempertahankan idealisme kita. Indonesia selanjutnya adalah kita yang mengisi kawan. Jika idealisme itu tetap dapat kita pegang teguh dan diterapkan dalam Era kehidupan selanjutnya, maka InsyAllah niscaya Indonesia akan jaya dan Sejahtera.

Dan saat ini, tidaklah cukup hanya dengan mempertahankan idealisme dan berwacana saja. Karena mahasiswa adalah makhluk Intelektual maka, saat ini pun kita bisa berkontribusi menyumbangkan ide dan gagasan, serta berkarya sesuai inovasi cerdas kita untuk sekitar dan masyarakat diluar sana.

Terakhir saya ingin mengutuip syair dari lagu Iwan Fals yang berjudul NEGARA:

”Negara harus bebaskan biaya Pendidikan, negara harus bebaskan biaya Kesehatan, negara harus ciptakan Pekerjaan, negara harus adil tidak memihak, itulah Tugas negara, itulah gunanya negara, itulah artinya negara.. Negara harus begitu.. Kalau tidak, Bubarkan saja..”

Penulis Harap Negara ini tidak Bubar…^^

Tetapi menjadi Negara yang lebih Madani.. yang Pemimpinnya Mencintai rakyatnya, dan karenanya Rakyatnya Mencintai dan Mendo’akan pemimpinnya. Suatu saat kelak. InsyAllah segera…



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: