Leave a comment

Merindu Sosok Pemimpin Transformatif

Kian lesuny produktifitas kepemimpinan jiwa – jiwa muda, mengakibatkan stok pemimpin di bumi pertiwi kian habis. Ketika harapan bangsa ditujukan pada generasi muda, yang sejatinya dapat menjadi jiwa – jiwa pengganti, yang regeneratif, serta menciptakan perubahan yang nyata pada negeri ini. Namun apa yang dapat kita lihat pada realita saat ini? Generasi muda di tidurkan dengan pengaruh-pengaruh dari luar. Seakan akhlak, idealisme, integritas, kredibilitas, dan jati diri kebangsaan kian pudar oleh indahnya pesona modernisasi barat. Tanpa filter dan saringan yang sesuai prinsip – prinsip, dan tatanan masyarakat yang ada dalam negri sendiri.

Sebenarnya telah banyak kaum intelektual muda di negri dengan dua ratus sekian juta penduduk ini. Pun telah banyak tersebar berbagai macam sekolah – sekolah baik itu negeri maupun swasta yang ikut andil dalam ”…Mencerdaskan kehidupan Bangsa…” di tanah air Indonesia ini. Namun rangkaian perjalanan bangsa menuju ”…makmur dan beradap…” justru terseok – seok. Tak ayal realitas sosial kemasyarakatan yang terus akan mengikuti arus perubahan pun kian terasa. Masalahnya ke arah mana perubahan itu akan tertuju. Rijalul Imam S. Hum dalam bukunya menciptakan momentum menyatakan, bahwa sudah saatnya lah para pemuda menjadi direct of change (pengarah perubahan), bukan lagi hanya sekedar iron of change (pelaku perubahan). Permasalahannya sekarang, sejauh mana para pemuda siap untuk menciptakan sistem demi terjadinya perubahan ke arah lebih baik itu.

Sejauh mana peran setiap individu dalam mengusung perubahan dalam setiap langkah hidupnya, akan menjadi ujung tonggak yang paling berharga. Prinsip dan idealisme yang ia bawa menjadi yang diutamakan oleh setiap individu, adalah modal dasar bagi kepemimpinan setiap individu itu sendiri. Bayangkan jika tiap individu itu baik dan apa yang dilakukannya adalah kemanfaatan, kemudian dari kemanfaatan dirinya, dapat mempengaruhi sekitar dan memberi kemanfaatan bagi sekitarnya. Aura yang demikianlah sebenarnya sosok dari seorang pemimpin. Yang setidaknya dapat memimpin dirinya sendiri menjadi baik, dan lebih lagi membuat sekitarnya menjadi baik.

Lebih jauh lagi Anis Matta menyatakan bahwa karakter yng harus dimiliki oleh seorang pemimpin setidaknya ada dua hal pokok, yaitu dia yang visioner dan berkepribadian utuh. Visi akan menjadi hal yang sangat penting bagi seorang pemimpin yang mengusung perubahan ke arah kebaikan, dibutuhkan visi misi yang besar dan jelas akan apa yang sebenarnya akan dilakukan, tidak hanya mem- beo dan mbebek ( cenderung pragmatis dan ikut – ikutan). Dan memiliki kepribadian yang utuh, memiliki prinsip yang dipegang dengan teguh dan idealisme yang jelas, tidak terkesan hipokrit.

Itulah magnet seorang pemimpin yang dirindukan, selalu menyongsong dan melakukan perubahan kongkrit. Tak ayal, jika setiap individu memiliki karakter seorang pemimpin sejati, maka perubahan sosial kemasyarakatanpun akan menjadi hal yang niscaya. Bukan hanya pada tataran sosial masyarakat, namun juga seluruh aspek yang ada di negeri ini. Dari individu – individu itu yang kemudian akan bertransformasi bergerak menuju perubahan yang lebih besar yang kemudian akan bertransformasi menjadi sebuah peradaban. Dan Aku, juga kita semua, semoga menjadi salah satu bagian di dalamnya, dalam barisan perubahan.

Tentu saja ini bukan sekedar dealektika dan retorika semata, namun yang terpenting adalah bersama – sama mewujudkannya dan berkontribusi nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: