Leave a comment

Kisah Tentang Cinta Sejati

Ada sebuah kisah tentang Cinta yang sebenar-benar cinta

Yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya

***

Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning,

Burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap

Pagi itu.. Rasulullah dengan suara terbatas, memberikan Khutbah,

“Wahai ummatku.. Kita semua ada dalam kekuasaan Allah, dan Cinta Kasih-Nya.

Maka taati dan bertaqwalah kepada-Nya..”

“Kuwariskan dua perkara pada kalian..

Al-Qur’an dan Sunnahku..”

“Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersama-sama aku..”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu-persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca,

Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya,

Utsman menghela nafas panjang,

Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam,

Isyarat itu telah datang, saatnya telah tiba..

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” Keluh hati semua sahabat kala itu..

Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia,

Tanda-tanda itu semakin kuat,.

Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah, ketika turun dari mimbar..

Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

***

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup..

Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” Tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,

“Maaflah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup daun pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,

“Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya.” tutur Fatimah lembut.

Lalu Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut.” Kata Rasulullah.

Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu.” kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” tanya Jibril lagi.

“Khabarkan kepadaku, bagaimana nasib ummatku kelak?”

“Jangan khawatir wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan Syurga bagi siapa saja, kecuali ummat Muhammad telah berada di dalamnya ’,”. kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.

Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar Wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal.” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah!! Dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada ummatku”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu.

Ali segera mendekatkan telinganya,

“Uushiikum bis Shalati, wa maa malakat aimanukum, Peliharalah Shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii… Ummatii… Ummatii…”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu..

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaih..

 

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita..

Kami juga mencintaimu Ya Rasulullah..

Dan Cinta itu..

Akan kami buktikan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: