Leave a comment

Edisi 2: Peran Mahasiswa di Lembaga

Salam Cinta dan Persaudaraan demi Pembebasan menuju Kesejahteraan…

Jika pada edisi sebelumnya telah digambarkan bagaimana BEM menjadi wadah pergerakan mahasiswa yang mengakomodir segala kepentingan mahasiswa dan rakyat, dan ia adalah tempat mahasiswa berkarya untuk Afiliasi, partisipasi, kemudian berkontribusi. Dalam edisi ini kita akan melihat seberapa peran yang seharusnya bisa kita lakukan di dalam lembaga mahasiswa itu sendiri.

Saya kutip pernyataan dari hadist Muhammad SAW sebagai dasar dari pembahasan kita:

“Setiap orang di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam (ketua, direktur, koordinator, presiden, dll) adalah pemimpin dan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…..”

Pada dasarnya kita sebagai manusia, siapapun itu adalah seorang pemimpin setidaknya bagi diri sendiri. Dia akan bertanggung jawab terhadap apapun yang dia perbuat. Ketika dia mampu untuk menggiring dirinya untuk berbuat baik. Maka iapun akan mempertanggungjawabkan kebaikan, sebaliknya jika ia menggiring dirinya untuk berbuat hal-hal yang tidak bermanfaat, berfoya-foya, bahkan bersikap apatis terhadap lingkungannya. Maka hal itulah yang akan ia pertanggungjawabkan.

Kemudian kita sebagai mahasiswa, sebenarnya juga memiliki fungsi yang sama yang nantinya setiap diri kita akan dimintai pertanggungjawaban setidaknya oleh orang tua, subjek-subjek yang terkait dengan kita, maupun zat lebih tinggi yang akan meminta tanggung jawab dari kita. Jadi bagaimana setidaknya kita bersikap dalam kepemimpinan kita? Pemimpin berkaitan dengan partisipasi dan juga kontribusi bagi lingkungan sekitar atas potensi, kemampuan, juga kompetensi dalam diri setiap individu yang dilejitkan menjadi variabel untuk bermanfaat bagi sekitarnya. Saya kembali mengutip perkataan dari 100 orang berpengaruh no.1 di dunia yaitu Muhammad SAW bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain”. Dalam konteks kampus, seberapa besarkah tanggung jawab mahasiswa sebagai masyarakat sosio-intelektual? Dan mengapa para Founding fathers kemudian mendirikan Universitas yaitu UGM sebagai universitas pertama di Indonesia.

Jika ditarik garis merahnya, sebenarnya para Founding fathers menempatkan pendidikan menjadi no. 1 dalam pembangunan menuju kemerdekaan sejati, dan menempatkan posisi mahasiswa sebagai sumber daya bangsa masa depan (iron stock) untuk mengisi pos-pos keilmuan dan segala bidang di negri ini untuk kemudian bertumpu pada kepentingan rakyat dan bangsa. Atas dasar itu Muhammad Yunus menyatakan bahwa, tidak ada gunanya jika saya belajar di bangku-bangku kuliah bahkan tutup saja institusi perguruan tinggi jika kelaparan, kemiskinan, dan kaum-kaum proletar berada di sebelah Kampus atau Universitas. Hal ini menggambarkan sebenarnya penting bagi kita yang masyarakat sosio-intelektual untuk memiliki peran lebih bagi masyarakat non sosio-intelektual ataupun kaum non terpelajar.

Disini kita bisa sedikit menarik hipotesis, bahwa mahasiswa memiliki 3 fungsi, yaitu Iron Stock, Agent of Change, dan Moral Force. Kita memiliki peran sebagai Iron Stock atau sumber daya bangsa masa depan. Dengan bidang keilmuan yang kita miliki, potensi, basis kompetensi, dan juga karakter, maka kita adalah aset berharga bangsa ini untuk kemudian mengisi pos-pos di segala bidang keilmuan maupun struktural strata masyarakat. Dengan fungsi kita sebagai aset sumber daya yang berharga ini yang nantinya pasti terjun dalam tiap strata masyarakat sesuai dengan keilmuan, potensi, dan kompetensi yang kita miliki, kita masih mempunyai apa yang disesebut jiwa yang dinamis ataupun idealisme. Yang membuat pemikiran kita seharusnya selalu tercerahkan dengan pemikiran-pemikiran yang baru, kemudian pemikiran yang baru dan jiwa yang dinamis dan idealis inilah yang kemudian menempatkan mahasiswa sebagai agent of change atau generasi perubahan. Dan kesemua itu belum lengkap tanpa bingkaian indah moralitas, karena karakter dan jati diri mahasiswa yang belum tercemari dengan nilai-nilai pragmatis dunia pasca kampus. Maka jati diri itu seharusnya mudah terbentuk menjadi kekuatan moral (Moral force) yang senantiasa menjunjung tinggi nilai moral dalam agamanya. Bingkaian itu lebih jauh menjadikan posisi mahasiswa sekarang ini hendaklah menjadi direct of change yaitu pemimpin, pengarah, dan pemikir bagi perubahan.

Lebih jauh lagi Antonio Grawnsky menempatkan posisi mahasiswa menjadi seorang Intelektual Organik yang nantinya hidup ditengah masyarakat dan menjadi pakar dalam bidangnya. Sedangkan Dr. Koentowijoyo menempatkan mahasiswa sebagai intelektual profetik yang menanamkan 3 konsep penting yaitu Transendensi, adalah hubungan yang kuat antara individu dengan Tuhannya. Humanis, yang menempatkan wacana pada prinsip kemanusiaan dan hak individu untuk mengembangkan potensi dan minat dalam dirinya. Dan sisi Liberasi yang menjadikan pertemuan antara hubungan dengan Tuhannya dan potensinya pada usaha perjuangan, perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik.

Jadi, mahasiswa adalah potensi yang luar biasa, yang menjadikan diri kita sebagai masyarakat sosio-intelektual yang bergerak berdasarkan basis intelektual yang dimiliki. Mahasiswa yang mendalami ilmunya di bangku kuliah, dari laboratorium-laboratorium penelitian, dan praktikum yang dijalaninya, belum lengkap tanpa adanya afiliasi, partisipasi, dan kontribusi lebih bagi lingkungan sekitar. Kita bisa memanfaatkan lembaga BEM, BSO, maupun KSF sebagai sarana untuk belajar, berkontribusi, dan menebar kemanfaatan dengan memanfaatkan fungsi jaringannya. Kita bisa menjadikan ia sarana untuk berinteraksi sosial antar individu. Kita bisa menjadikan ia sebagai sarana untuk belajar apa yang tidak didapat di bangku-bangku kuliah, praktikum, maupun laboratorium penelitian. Kita bisa mengasah kepemimpinan kita dan mencoba bertanggung jawab atas apa yang dibuat. Kita juga bisa menjadikan ia sebagai sarana untuk bisa banyak mengasah softskill. Dan lebih jauh lagi di dalamnya kita bisa berkontribusi untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat luas dan bangsa ini, dari hal kecil yang bisa kita lakukan.

Saya ingin menutup pembahasan kita dengan mencoba melihat ke dalam diri kita, sebenarnya termasuk yang manakah karakter diri kita. Mahasiswa sekarang menurut Dr. Arie Sujito dibagi menjadi 4 karakter. Yang Pertama, Mahasiswa pragmatis, dapet IP tinggi, dapet kerja yang layak, penghasilan melimpah, punya rumah, punya mobil, lalu menikah. Kedua, mahasiswa pragmatis-hedonis, mahasiswa tipe ini lebih mementingkan gaya hidup, IP tinggi, jalan-jalan, foya-foya, pokoknya yang asyik-asyik dan simpel aja deh… Ketiga, Mahasiswa Benci realitas dunia, mahasiswa tipe ini cendrung fundamentalis, menempatkan hitam dan putih dengan jelas dan akhirnya cendrung radikal dan eksklusif. Keempat, Mahasiswa Idealis menempatkan moral, dan kebenaran menjadi yang utama, punya waktu untuk berkontribusi, aktivis, senantiasa menambah prespektif berpikir, dan biasanya sih organisatoris, namun tidak lupa akan studinya. Dari empat karakter di atas kita bisa berkaca terhadap diri sendiri, termasuk mahasiswa yang mana kita. Namun jika kita mau berpikir objektif, kata kuncinya sebenarnya adalah Seimbang.

Kita bisa berkontribusi, kita bisa melakukan sesuatu, karena kita bisa berkolektif dengan lembaga mahasiswa. Akhirnya, saatnya kita ambil bagian, bergabung, dan bergerak. Dari Mahasiswa untuk Lembaga, dari Lembaga untuk Fakultas Farmasi, dari Farmasi untuk kampus UGM, dari UGM untuk Yogyakarta, dan dari Yogyakarta untuk Indonesia..Ayo bangkit Farmasi Indonesia!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: